Prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun mengalami peningkatan dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018 [1]. Pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah memiliki target penurunan . . .
Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 telah merencanakan berbagai upaya pengendalian tembakau.
. . .Prevalensi perokok anak di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Data Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas menunjukkan bahwa persentase perokok anak usia 10–18 tahun terus mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 7,2% menjadi 9,1 % . . .
Kesejahteraan petani tembakau di Indonesia masih belum menunjukkan hasil yang maksimal, meski Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan produksi dan konsumsi rokok tertinggi di dunia. Studi Pusat Kajian Jaminan . . .
Prevalensi merokok di Indonesia masih tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi konsumsi tembakau (hisap dan kunyah) pada usia lebih dari 15 tahun di Indonesia pada tahun . . .
“Pembangunan Sumber Daya Manusia menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah, penurunan stunting – kematian ibu – kematian bayi, peningkatan kualitas pendidikan, vokasi, pembangunan lembaga . . .
Konsumsi rokok yang masih tinggi menjadi permasalahan dan tantangan tersendiri yang dihadapi oleh Indonesia. Data WHO (2020) menunjukkan bahwa prevalensi merokok laki-laki dewasa di Indonesia sebesar 62,9% dan angka ini . . .
Pada tahun 2018, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia dalam hal konsumsi rokok setelah China dan India, dimana 38,3% penduduk adalah perokok dan sekitar 20% . . .