Jakarta (ANTARA) – Penelitian terbaru Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menemukan bahwa rumah tangga perokok memiliki risiko mencederai manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Riset mengungkapkan sebagian besar anak penerima MBG berasal dari rumah tangga perokok, yang cenderung mengalokasikan pengeluaran lebih sedikit untuk pangan bergizi dan lebih banyak untuk makanan kurang sehat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan bahwa sekitar 28,99 persen rumah tangga di Indonesia masih mengonsumsi rokok, dengan rata-rata pengeluaran mencapai sekitar 11 persen dari total pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena belanja rokok dapat mengurangi alokasi keluarga untuk pangan bergizi, kesehatan, dan pendidikan anak.
“Program gizi seperti MBG memerlukan dukungan lingkungan rumah tangga yang sehat, termasuk pengendalian perilaku merokok dan alokasi pengeluaran keluarga yang lebih berpihak pada kebutuhan anak,” kata Ketua PKJS-UI Aryana Satrya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Peneliti PKJS-UI, Santoso menjelaskan bahwa keberhasilan program seperti MBG tidak dapat dipahami semata-mata dari sisi penyediaan makanan.
Ia menilai perilaku konsumsi dan kondisi rumah tangga tempat anak tumbuh juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil yang dicapai.
“MBG memiliki potensi mengurangi pengeluaran rokok rumah tangga, tetapi dampaknya belum signifikan sehingga memerlukan intervensi lanjutan yang lebih komprehensif,” ujar Santoso.
Sementara, Dewan Pakar Gizi Badan Gizi Nasional Ikeu Tanziha menegaskan bahwa Program MBG tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai program pemberian makanan, melainkan sebagai bagian dari transformasi perilaku hidup sehat.
Menurutnya, keberhasilan MBG juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih luas, termasuk akses terhadap pangan bergizi dan paparan terhadap rokok.
Sehingga, diperlukan adanya pemahaman lebih dalam faktor sosial dan budaya, yang membuat perilaku merokok tetap bertahan dan dianggap normal di masyarakat.
Berdasarkan temuan tersebut, PKJS-UI merekomendasikan sejumlah langkah kebijakan untuk memperkuat efektivitas Program MBG dan memastikan setiap investasi gizi memberikan manfaat yang maksimal bagi anak Indonesia.
Maka dari itu, PKJS-UI merekomendasikan kepada pemangku kepentingan terkait untuk melakukan skrining sederhana terkait paparan rokok di rumah dan memperkuat edukasi bahaya rokok di sekolah, menjadikan MBG sebagai program perubahan perilaku melalui edukasi rumah bebas rokok, serta meningkatkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan menyederhanakan struktur CHT yang dapat memahalkan harga rokok sehingga menurunkan konsumsi.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026






