Fatayat Nahdlatul Ulama Dukung Pengendalian Konsumsi Rokok demi Melindungi Anak, Perempuan, dan Keluarga Miskin

Jakarta, 3 Agustus 2019 — Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan dukungan kuat terhadap upaya pengendalian konsumsi rokok di Indonesia guna melindungi anak-anak, perempuan, dan keluarga miskin dari dampak buruk rokok. Dukungan ini mengemuka dalam pertemuan dan pelatihan pengendalian rokok yang diikuti oleh perwakilan pengurus Fatayat NU se-Jabodetabek, yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) bekerja sama dengan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Pengendalian Konsumsi Rokok yang sebelumnya telah dilaksanakan di Jombang (Pesantren Tebuireng) dan Kediri (Pesantren Lirboyo), serta ditutup di Jakarta. Festival ini bertujuan mendorong penurunan konsumsi rokok nasional melalui penguatan peran masyarakat sipil, khususnya perempuan dan organisasi keagamaan.

Data menunjukkan konsumsi rokok di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni mencapai 33,8 persen. Angka ini didominasi oleh perokok laki-laki dewasa sebesar 62,9 persen, yang berdampak pada meningkatnya jumlah perempuan dan anak sebagai perokok pasif. Lebih memprihatinkan lagi, prevalensi perokok anak meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018, salah satunya dipengaruhi oleh harga rokok yang masih terjangkau bagi anak dan remaja.

Penelitian PKJS-UI menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat, termasuk perokok, mendukung kenaikan harga rokok untuk melindungi generasi muda.
“Penelitian kami yang melibatkan responden dari hampir seluruh provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 80,45 persen perokok mendukung kenaikan harga rokok demi melindungi anak-anak. Ini menunjukkan kesadaran bahwa merokok adalah perilaku berisiko yang tidak ingin ditiru oleh generasi muda,” ujar Dr. Renny Nurhasana, peneliti PKJS-UI.

Selain peran pemerintah, perempuan—khususnya ibu—memegang peranan penting dalam melindungi keluarga dari dampak rokok. Perempuan kerap menjadi kelompok paling terdampak sebagai perokok pasif, sekaligus menanggung beban sosial dan ekonomi akibat pengeluaran rumah tangga untuk rokok yang menggeser pemenuhan gizi, pendidikan, dan kesehatan anak. Dalam konteks ini, kader Fatayat NU dinilai memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di tingkat keluarga dan komunitas.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Hj. Sinta Nuriyah Wahid, Ibu Negara Indonesia keempat, yang menegaskan bahwa bahaya rokok merupakan persoalan bangsa.
“Dari perspektif kesehatan, hampir tidak ada dampak positif dari rokok. Tidak ada alasan memberi ruang bagi rokok. Untuk meminimalkan dampaknya, pengendalian rokok harus dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir,” tegasnya.

Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Ermarini, menyampaikan bahwa Fatayat NU berkomitmen aktif dalam isu kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan ini, ia berharap para kader dapat menyebarkan kesadaran kepada perempuan dan ibu di lingkungan masing-masing untuk melindungi keluarga dari bahaya rokok, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Pembicara lainnya, Dr. Abdillah Ahsan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, menyoroti lemahnya regulasi dan pengendalian rokok di Indonesia. Ia menekankan bahwa perlindungan terhadap masa depan anak harus diperjuangkan sejak sekarang. Sementara itu, Tubagus Haryo Karbyanto dari Komnas PT mendorong perempuan, khususnya kader Fatayat NU, agar berani menyuarakan haknya sebagai perokok pasif dan melakukan advokasi agar rumah menjadi kawasan bebas rokok.

Salah satu peserta, Umi Kulsum, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan yang sangat bermanfaat dan aplikatif sesuai dengan latar belakang profesi peserta. Dalam pertemuan ini juga diserukan pentingnya pemenuhan gizi anak untuk mencegah stunting, sejalan dengan temuan PKJS-UI bahwa anak dari orang tua perokok memiliki risiko stunting yang lebih tinggi dibandingkan anak dari orang tua non-perokok.

Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Pesantren Lirboyo, Kediri, yang diikuti oleh perwakilan Fatayat NU dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta merumuskan strategi pengendalian konsumsi rokok yang sesuai dengan kondisi lokal, serta mendeklarasikan dukungan agar pemerintah menetapkan kebijakan harga rokok yang tidak terjangkau bagi anak dan remaja.

Dengan peran strategis Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, dukungan Fatayat NU diharapkan dapat memperkuat upaya pengendalian konsumsi rokok secara nasional. Kebijakan harga rokok yang tidak terjangkau dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi anak dan perempuan, sekaligus menekan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga Indonesia.